news1

“Jika kita mencemari udara, air, dan tanah yang membantu kita bertahan hidup dengan baik; serta merusak keanekaragaman hayati yang menopang berbagai sistem alam untuk berfungsi, tak ada uang dalam jumlah berapa pun yang dapat menyelamatkan kita.” – David Suzuki, ilmuwan dan aktivis lingkungan.

Pada Maret 2019 lalu, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) meluncurkan sebuah dokumen bersejarah, yaitu kajian pembangunan rendah karbon Indonesia. Dokumen Low Carbon Development Initiative (LCDI) tersebut akan diintegrasikan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2025 dan memastikan bahwa pembangunan negara kita akan berkelanjutan.

Selama ini terdapat dua aliran yang senantiasa berseteru dalam konteks pembangunan. Aliran pertama menganggap lingkungan sebagai penghalang pembangunan, sementara aliran lain berpendapat bahwa lingkungan justru menguntungkan pembangunan untuk jangka panjang.

Bagaimanapun, roda ekonomi tidak akan berputar jika sumber daya alam habis, hutan gundul, sumber air kering, ekosistem terganggu sehingga memicu bencana alam dan penyakit baru, serta tentunya mengancam kehidupan manusia sebagai pelaku ekonomi. Tanpa upaya dan komitmen, kita akan tiba pada satu titik di mana ekonomi mati karena semua yang bernilai ekonomi sudah punah. Apakah kehidupan dapat terus berjalan tanpa air, tanah, dan hutan?

Indonesia menyadari bahwa kekayaan alamnya juga akan terkikis bila mengabaikan pengelolaan berkelanjutan. Indonesia turut meratifikasi Perjanjian Paris dan berkomitmen dalam NDC (Nationally Determined Contribution), yaitu upaya bersama berbagai negara untuk mengurangi emisi gas rumah kaca di dalam negeri masing-masing. Sebanyak 196 negara bergandengan tangan mencegah supaya kenaikan suhu rata-rata bumi tidak sampai 1.5o Celsius. Kenaikan suhu melebihi target tersebut akan menyebabkan naiknya permukaan air laut, tenggelamnya pulau-pulau, sehingga berbagai spesies kehilangan habitat, termasuk manusia.

 

Green Bond sebagai Instrumen Pembiayaan Penunjang Keberlanjutan Lingkungan

Demi mencapai target tersebut dan memenuhi kontribusinya, Indonesia mewujudkannya dalam berbagai kebijakan. Salah satu upayanya adalah melalui inisiatif green bond, yaitu instrumen pembiayaan untuk pembangunan berwawasan lingkungan dan berkelanjutan.

Pada 2017, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menerbitkan peraturan tentang Penerbitan dan Persyaratan Efek Bersifat Utang Berwawasan Lingkungan. Peraturan ini memungkinkan pemerintah dan sektor swasta mengeluarkan efek untuk pembiayaan berbagai pembangunan pro-lingkungan. Dinyatakan bahwa setidaknya 70% hasil penjualan surat utang digunakan untuk pembangunan, antara lain, energi terbarukan, transportasi ramah lingkungan, pengelolaan limbah berkelanjutan, serta konservasi keanekaragaman hayati.

Pada Februari 2018, Indonesia menerbitkan sukuk hijau pertama di Asia. Kesuksesan ini dilanjutkan dengan penerbitan sukuk hijau tahun berikutnya, yang digunakan untuk pembiayaan pembangunan LRT dan pembangkit listrik tenaga air, serta pengelolaan air. Indonesia juga akan menerbitkan obligasi berwawasan kelautan (blue bond), yang berfokus pada pembiayaan penyelamatan lingkungan pesisir, terumbu karang, dan rehabilitasi hutan bakau.

Beberapa tahun lalu, tak pernah terbayang dalam benak kita, bahwa berinvestasi juga bisa dilakukan dengan semangat menjaga lingkungan. Kini para investor dapat menjadi penyelamat lingkungan sekaligus meraih keuntungan di pasar modal.

Selain pemerintah Indonesia yang sudah menerbitkan sukuk hijau, beberapa perusahaan juga mengeluarkan green bond, antara lain PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero)-SMI, dan PT Star Energy. SMI bahkan mengalokasikan 100% hasil penjualan obligasi untuk pembiayaan pro-lingkungan, melebihi permintaan minimum yang ditetapkan pemerintah, yaitu 70%.

Tahun lalu, pemerintah menerbitkan Sukuk Negara Tabungan Seri ST006 yang merupakan Green Sukuk Retail atau sukuk hijau pertama di dunia yang dijual secara daring kepada masyarakat Indonesia. Green Sukuk Retail ini tidak hanya berdampak pada penurunan emisi karbon, tetapi juga menyasar lima bidang kampanye global “Tujuan Pembangunan Berkelanjutan” (Sustainable Development Goals/SGDs), antara lain, energi bersih dan terjangkau, pekerjaan yang layak, industri, inovasi dan infrastruktur, kota dan komunitas berkelanjutan, serta penanganan perubahan iklim.

 

Yuk, berinvestasi sekaligus berkontribusi menyelamatkan lingkungan!

Hanya diperlukan satu langkah mudah untuk mewujudkan idealisme sebagai investor berwawasan lingkungan, yaitu berpartisipasi pada produk-produk investasi yang berorientasi pada lingkungan.

Melalui aplikasi MOST yang dikembangkan oleh Mandiri Sekuritas, langkah tersebut kian mudah dan nyaman karena dengan satu platform tersebut memungkinkan nasabah berinvestasi dan bertransaksi tidak hanya pada obligasi, tetapi juga saham dan reksa dana. Untuk investasi pada obligasi, membeli green bond ritel pemerintah dan green bond yang diterbitkan korporasi bukanlah hal yang mustahil.

Untuk mulai bertransaksi di Mandiri Sekuritas, investor pun sudah dimudahkan dengan berbagai cara. Nasabah dapat membuka rekening melalui MOST Web di www.most.co.id, aplikasi MOST, MOST App di laptop dan komputer, atau menggunakan MOST Mobile di ponsel pintar. 

Pemanfaatan teknologi secara daring untuk bertransaksi di pasar modal juga merupakan komitmen Mandiri Sekuritas dalam penghematan energi. Nasabah tidak perlu datang ke kantor cabang untuk melakukan pembukaan rekening dana nasabah (RDN). Mandiri Sekuritas telah menyediakan fasilitas pembukaan rekening efek online (Online Account Opening) yang dapat dilakukan di mana pun.

Selain itu, keunggulan Mandiri Sekuritas adalah kajian dan analisis yang komprehensif. Analisis riset Mandiri Sekuritas juga termasuk ekonomi makro dan saham (equity research). Dengan kajian dan analisis tersebut, nasabah Mandiri Sekuritas juga dapat memperoleh informasi seberapa hijau komitmen suatu emiten; atau sekadar ingin tahu mana saja yang menerbitkan green bond. Kajian dan pertimbangan ini tentu membantu calon investor untuk menentukan pilihan sesuai dengan idealismenya.

Jadi, apakah kamu sudah siap menjadi pahlawan lingkungan?

Share to