news1

Negara mana yang memiliki penduduk muslim terbanyak di dunia? Bukan Arab Saudi, Iran, atau Pakistan. Menurut data PewResearch.org di tahun 2015, penduduk Indonesia yang beragama Islam mencapai 220 juta jiwa atau sekitar 87% dari total populasi, terbesar di dunia.

Tahun ini, penduduk muslim Indonesia diperkirakan menyentuh angka 229,62 juta jiwa. Posisi berikutnya ialah India, dengan penduduk Muslim 176,2 juta jiwa, dan urutan ketiga adalah Pakistan, yaitu 167,41 juta jiwa.

Populasi muslim yang sangat banyak tersebut mestinya menjadi modal besar bagi Indonesia untuk mengembangkan investasi berbasis syariah, termasuk investasi pasar modal syariah. Terlebih di bulan Ramadan 1441 Hijriah ini, bulan suci umat Islam, periode di mana saham-saham konsumer dalam kategori syariah diburu investor karena memberikan imbal hasil yang bagus.

Modal demografi bagi pengembangan investasi syariah ini juga disokong oleh regulasi dan fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI). Pada 18 April 2001, pertama kalinya Dewan Syariah Nasional MUI (DSN-MUI) merilis fatwa langsung terkait pasar modal, yaitu Fatwa Nomor 20/DSN-MUI/IV/2001 tentang Pedoman Pelaksanaan Investasi untuk Reksa Dana Syariah.

Pada 12 September 2007, Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK)—sekarang Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pun mengeluarkan Daftar Efek Syariah (DES), berisi saham-saham yang telah memenuhi prinsip syariah. Sejak 2001 hingga 2008, MUI bahkan sudah merilis 20 fatwa terkait pasar modal syariah Indonesia. Fatwa-fatwa MUI tersebut dengan sendirinya menggugurkan persepsi bahwa saham tidak syariah atau haram.

Dibandingkan sebelumnya, publik mulai akrab dengan saham syariah. Produk pasar modal lain yang juga dikenal umum adalah reksa dana syariah, sukuk (surat utang/obligasi syariah)—baik sukuk korporasi maupun sukuk negara, ETF (Exchange Traded Fund) syariah, dan efek beragun aset (EBA) syariah. Jalannya pasar modal syariah di Indonesia diawasi oleh DSN-MUI dan OJK.

Saham syariah adalah efek saham yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah. Kriterianya adalah perusahaan emiten yang tidak menjalankan bisnis antara lain,

  • judi dan permainan tergolong judi,
  • barang atau jasa yang haram zatnya (haram li-dzatihi) seperti miras dan rokok;
  • perdagangan yang tidak disertai dengan penyerahan barang/jasa;
  • bank berbasis bunga;
  • perusahaan pembiayaan berbasis bunga;
  • dan - jual beli risiko yang mengandung unsur ketidakpastian (gharar) dan/atau judi (maisir), termasuk asuransi konvensional.

Selain itu, saham kategori syariah adalah saham perusahaan dengan total utang berbasis bunga dibandingkan total aset tidak lebih dari 45%, dan total pendapatan bunga dan pendapatan tidak halal lainnya dibandingkan total pendapatan usaha (revenue) dan pendapatan lain-lain tidak lebih dari 10%.

Sementara itu, reksa dana syariah adalah salah satu alternatif investasi yang menghimpun dan mengelola dana dari masyarakat sesuai prinsip-prinsip syariah di pasar modal. Reksa dana syariah dikenal pertama kali di Indonesia pada tahun 1997.

Reksa dana syariah memiliki kriteria yang berbeda dengan reksa dana konvensional pada umumnya. Perbedaan ini terletak pada pemilihan instrumen investasi dan mekanisme investasi yang tidak boleh bertentangan dengan prinsip-prinsip syariah. Perbedaan lainnya adalah keseluruhan proses manajemen portofolio, screeninng (penyaringan), dan cleansing (pembersihan). Dana dari proses pembersihan ini kemudian disalurkan untuk kegiatan sosial dan kemanusiaan.

Di BEI terdapat  tiga indeks saham syariah yang bisa menjadi patokan investor, yakni Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) yang dirilis 12 Mei 2011, Jakarta Islamic Index (JII) yang dirilis sejak 3 Juli 2000 dan Jakarta Islamic Index 70 (JII70) yang dirilis sejak 17 Mei 2018.

Sayangnya, setelah 43 tahun usia pasar modal Indonesia—diperingati sejak 10 Agustus 1977—kontribusi pasar modal syariah masih rendah. Meskipun terus bertumbuh, jumlah investor yang memilih prinsip syariah belum banyak. Data BEI mencatat total investor syariah per Januari 2020 mencapai 70.132 investor, atau naik 2,2% dari 68.599 investor pada akhir 2019. Rasio investor syariah hanya 6,3% dari total investor di BEI yang saat ini berjumlah 1.118.733 investor.

Hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan yang dilakukan OJK tahun 2016 juga menunjukkan bahwa saham bukan produk dan layanan jasa keuangan syariah (termasuk pasar modal syariah) yang paling banyak dipilih masyarakat. Pilihan utama masyarakat masih terletak pada tabungan (9,1%), asuransi (1,9%), deposito (1,6%), dan giro (0,9%).

Kendati demikian, upaya meningkatkan pasar modal syariah tak pernah mandek. Sejumlah analis juga meyakini prospek saham-saham syariah di masa depan cukup baik. Apalagi saham-saham yang masuk dalam indeks JII dan ISSI juga menguat terbatas, menunjukkan potensi melesatnya harga saham.

Selain itu, sebagaimana dinyatakan OJK, kelebihan di pasar modal syariah adalah bahwa para investor pun mencari keberkahan. Berkah dalam artian bahwa pilihan investasinya membawa kebaikan, tak sekadar keuntungan, tetapi keuntungan yang tidak melanggar syariah.

"Di pasar modal syariah, kita juga mencari berkah. Kalau bapak [investor] hanya mengejar return maka bapak ibu akan kembali ke pasar modal konvensional. Karena itu tidak semata-mata mengejar yield," ujar Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Hoesen, saat membuka Syariah Investment Week 2019 di BEI, Kamis, 21 November 2019.

 

Investasi Saham Syariah Mandiri Sekuritas

Dalam upaya mendorong pasar modal syariah ini, PT Mandiri Sekuritas, perusahaan sekuritas anak usaha PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), juga tertantang menggenjot investor syariah.

Mandiri Sekuritas menyediakan layanan syariah bagi nasabah yang ingin berinvestasi di pasar modal sesuai prinsip-prinsip syariah. Mandiri Sekuritas sudah mendapatkan izin penyelenggaraan System Online Trading Sharia (SOTS) dari DSN-MUI untuk melayani investasi saham syariah kepada nasabah. Selain saham syariah, Mandiri Sekuritas juga mengantongi izin sebagai Mitra Distribusi Surat Berharga Negara Syariah Retail dan menjadi Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD) untuk produk-produk reksa dana syariah.

Keistimewaan transaksi saham syariah, antara lain

  1. Produk saham yang diperjualbelikan tergolong halal (sesuai DES yang dikeluarkan BEI), berfokus terhadap nisbah/sistem bagi hasil serta risiko antara investor dan emiten.
  2. Sistem transaksi yang digunakan mengikuti ketentuan hukum Islam.
  3. Rekening Dana Nasabah (RDN) yang terpercaya dan sesuai dengan prinsip syariah, sehingga tidak mengenal bunga transaksi.

Calon investor cukup membuka rekening efek di Mandiri Sekuritas. Setelah melakukan pembukaan rekening efek, investor akan menerima akun MOST (username and password) dan nomor Rekening Dana Nasabah (RDN) syariah dalam dua email terpisah.

Setelah menyetor deposit dana dengan melakukan transfer ke nomor RDN syariah, silakan mengunjungi www.most.co.id/syariah. Nasabah dapat mengunduh aplikasi MOST yang tersedia untuk PC di website most.co.id, atau di Android Playstore atau Apple App untuk ponsel, dan transaksi saham syariah pun dapat segera dilakukan.

Dengan segala kemudahan ini, apalagi yang ditunggu? Selamat berinvestasi dan selamat berhijrah!

Share to