news1

Setiap orang mungkin telah mengenal atau bahkan telah menggunakan beragam instrumen investasi. Setiap instrumen pasti menawarkan karakter investasinya masing-masing yang menggiurkan. Jika sesuai dengan gaya investasi Anda, mungkin akan menguntungkan. Namun jika tidak, pasti imbal hasilnya pasti tidak memuaskan. Maka dari itu dalam memilih instrumen, Anda harus teliti agar menguntungkan dan perlu dipertimbangkan lagi memilih investasi di luar tabungan dan deposito yang sanggup melawan inflasi. Minimal kekayaan yang sudah didapat, tidak tergerus inflasi.

Dalam hal ini, Anda harus memastikan dua hal. Yang pertama, mengenal instrumen investasi yang tersedia, lalu mengenal gaya investasi Anda masing-masing. Hanya dengan dua hal itu, Anda akan dapat melakukan investasi dengan nyaman dan menghasilkan imbal hasil yang optimal. Berikut adalah instrumen investasi yang dapat Anda pilih.

1. Investasi reksa dana

Berinvestasi reksa dana terbilang mudah, bahkan nominalnya pun bisa mulai dari 50 ribu rupiah saja. Hasil yang akan didapat bisa lebih tinggi dari investasi yang beresiko lebih tinggi seperti saham. Reksadana sebenarnya tidak mudah, tapi karena pengelolaannya dilakukan oleh manajer investasi maka kerumitannya tidak Anda rasakan. Dengan kata lain, Anda tinggal duduk manis menunggu hasil investasi yang lumayan. Tetap, Anda perlu melakukan pekerjaan Anda dengan memilih manajer investasi yang tepat, sehingga hasil yang diperoleh optimal dengan tingkat risiko yang kecil.

2. Saham

Instrumen investasi ini tergolong pilihan investasi yang populer selain reksa dana. Investasi ini menuntut pengetahuan yang tinggi karena berisiko tinggi pula. Maka, akan membutuhkan kalkulasi yang matang, terukur, dan bukan spekulatif. Mengawali investasi saham hampir mirip dengan reksa dana, tinggal buka rekening di sekuritas. Carilah sekuritas yang punya reputasi dan layanan yang ditawarkan cocok dengan keinginan Anda, seperti Mandiri Sekuritas yang terpercaya dan mempunyai tim yang berkualitas.

3. Obligasi

Obligasi adalah pilihan lain untuk berinvestasi. Memiliki obligasi berarti Anda sebagai para investor sedang meminjamkan uang kepada negara atau perusahaan dengan tingkat bunga tertentu sebagai imbal hasil. Obligasi adalah instrumen investasi yang menawarkan stabilitas dan risiko yang rendah. Jika ingin imbal hasil yang pasti dan risiko kehilangan uang yang kecil, maka obligasi negara mungkin pilihan yang tepat. Kekurangannya adalah tingkat imbal hasil atau ROI-nya cukup rendah. Walau demikian, obligasi tetap adalah sebuah pilihan untuk investasi karena biasanya imbal hasilnya masih di atas tabungan atau deposito.

4. Investasi Emas

Emas bagi sebagian kalangan dianggap paling rendah risikonya sebagai instrumen investasi. Meski begitu, harga emas tak memberikan kemudahan cashflow seperti instrumen investasi lain. Emas baru jadi likuid ketika dijual lagi. Kalau mantap berinvestasi emasi, belilah langsung ke perusahaan yang dilengkapi dokumen resmi. Simpanlah di tempat aman dan kalau perlu menyewa deposit box di bank. Dari segi harga, emas batangan dengan berat di atas 50 gram lebih murah daripada emas pecahan kecil seperti 5 gram maupun 10 gram. Meski begitu kalau diukur dari sisi likuid-nya, emas pecahan kecil lebih gampang dijual karena nilainya tidak sebesar emas pecahan besar.

5. Derivatif

Derivatif adalah instrumen investasi yang mempunya resiko tinggi. Dalam hal ini Anda menginvestasikan uang Anda pada produk turunan (derivatif) dari instrumen investasi lainnya. Sebagai contoh, Forex (pertukaran mata uang) adalah turunan dari instrumen investasi uang tunai dan Option adalah turunan dari instrumen investasi saham. Umumnya, Derivatif digunakan sebagai alat lindung nilai (hedging) untuk investasi lainnya.

6. Properti

Properti, tentu Anda semua mengenal instrumen investasi ini. Bahkan jika Anda tidak tahu apa itu investasi, pasti Anda tetap mengenal apa itu properti. Properti menawarkan imbal hasil yang sangat terjamin dengan resiko yang sangat kecil. Jadi tidak heran jika instrumen investasi ini sangat dikenal. Imbal hasil (ROI) nya bisa diperoleh dari kenaikan harganya dan juga dari nilai sewanya. Bisa dimulai dengan membeli rumah lama dengan harga di bawah Rp 500 juta. Rumah seharga itu bisa disewakan kepada keluarga muda yang cenderung dananya terbatas. Selama kondisi ekonomi tidak dalam krisis maka dapat dikatakan, instrumen investasi ini menawarkan investasi dengan tanpa risiko. Tapi ada dua kelemahan yakni memerlukan modal yang besar dan tidak liquid. Jadi properti bukan untuk semua. Anda harus terlebih dahulu memastikan bahwa semua kebutuhan sehari-hari telah terpenuhi plus dana cadangan sebelum memutuskan untuk berinvestasi dalam properti.

Share to