Dalam dunia investasi pasar modal, keputusan investor umumnya didasarkan pada berbagai pertimbangan, seperti analisa fundamental, analisa teknikal atau proyeksi kinerja keuangan emiten yang berpengaruh terhadap harga saham serta proyeksi pertumbuhan makroekonomi nasional dan global yang memengaruhi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Lebih lanjut, IHSG dapat bergerak signifikan ketika terdapat kesenjangan besar antara proyeksi pasar dan realisasi yang terjadi. Misalnya, ketika pasar memprediksi suku bunga The Fed akan turun, tetapi kenyataannya justru mengalami kenaikan yang signifikan, pasar biasanya bereaksi cepat dan menekan IHSG. Semakin besar kesenjangannya, semakin besar pula tekanan terhadap pasar.
Pergerakan pasar yang cepat sering memicu gejolak emosi investor. Tak jarang investor lebih banyak bereaksi emosional dibandingkan berpikir lebih strategis berdasarkan analisa-analisa di atas. Jangan sampai terjebak dalam emotional investing karena dapat berakhir pada investasi berbiaya mahal. Banyak investor yang underperform bukan karena produk investasinya buruk, melainkan karena keputusan investasi yang diambil berdasarkan emosi di waktu yang tidak tepat, sehingga membeli saham saat mahal, menjual saat murah, terlalu sering berpindah instrumen, atau bereaksi terhadap volatilitas jangka pendek.
Jebakan Emosional dalam Berinvestasi
Terdapat beberapa bentuk jebakan emosional yang umum dialami investor: (1) Panic selling. Kondisi ini terjadi ketika penurunan tajam memicu ketakutan, sehingga investor buru-buru keluar dari pasar dan kehilangan peluang saat pasar kembali pulih, (2) FOMO (Fear of Missing Out). FOMO biasanya dipicu oleh ketakutan tertinggal tren, sehingga berakibat investor cenderung membeli asset yang sudah terlalu mahal, (3) Overconfidence. Keberhasilan yang berulang sering membuat investor terlalu percaya diri, berani mengambil posisi agresif, dan mengabaikan risiko dan (4) Anchoring. Kondisi ini terjadi ketika investor terjebak pada harga masa lalu, misalnya hanya mau menjual ketika harga kembali ke nilai tertentu—meskipun kondisi pasar sudah berubah.
Secara psikologis, fenomena ini mudah dipahami. Manusia secara naluriah cenderung bereaksi cepat terhadap ancaman. Di pasar modal, penurunan mendadak sering memicu reaksi serupa, mendorong investor melakukan panic selling tanpa mempertimbangkan kondisi fundamental emiten.
Selain itu, rasa rugi cenderung terasa dua kali lebih menyakitkan dibandingkan rasa senang ketika memperoleh keuntungan. Akibatnya, investor lebih rentan menjual saat pasar turun atau ragu berinvestasi ketika kondisi tidak pasti. Tekanan sosial melalui media sosial, rumor pasar, dan komunitas online juga dapat memperkuat rasa takut atau euforia, sehingga sulit bagi investor untuk tetap berpegang pada strategi yang telah ditetapkan.
Strategi Menghadapi Emotional Investing
Dengan kesadaran dan disiplin, emosi sebenarnya dapat dikendalikan. Dalam banyak kasus, tetap berpegang pada strategi investasi yang jelas memberikan hasil jangka panjang yang lebih baik. Beberapa langkah yang dapat dilakukan, antara lain:
1. Tetapkan tujuan investasi yang jelas
Tujuan yang konkret membantu menjaga arah di tengah gejolak pasar.
2. Lakukan diversifikasi
Portofolio yang seimbang dan terdiversifikasi dapat mengurangi stres akibat volatilitas. Jaga fundamental investasi tetap kuat.
3. Disiplin dalam rencana alokasi asset
Tentukan porsi saham, obligasi, dan aset lainnya sejak awal, sesuai profil risiko, tujuan, serta rencana investasi, lalu konsisten dengan rencana tersebut meskipun pasar bergejolak.
4. Rebalancing secara berkala
Rebalancing mendorong disiplin dengan menjual aset yang telah naik terlalu tinggi dan membeli aset yang sedang murah.
5. Batasi frekuensi mengecek portofolio
Memantau portofolio setiap hari dapat memicu kecemasan. Bagi sebagian besar investor, peninjauan bulanan atau dua mingguan sudah memadai.
6. Konsultasi dengan profesional berlisensi
Profesional dapat membantu menjaga objektivitas, mengurangi bias emosional, dan memastikan strategi tetap selaras dengan tujuan jangka panjang.
Bijak Berinvestasi Bersama Mandiri Sekuritas
Emosi adalah bagian alami dari diri manusia, namun emosi jangan dijadikan penentu keputusan investasi. Dengan mengenali pemicu emosi, menghindari jebakan perilaku umum, dan tetap fokus pada strategi jangka panjang, investor dapat membangun kepercayaan diri sekaligus menjaga agar perjalanan investasinya tetap berada pada jalur yang benar, dan tujuan keuangannya tercapai.
Emosi bisa lebih terjaga bila berinvestasi melalui perusahaan sekuritas yang terpercaya. Investasi pasar modal termasuk investasi saham melalui Growin’ by Mandiri Sekuritas akan lebih aman dan nyaman karena Mandiri Sekuritas adalah perusahaan efek yang terdaftar dan diawasi oleh OJK. Dan yang lebih penting, platform digital Growin’ by Mandiri Sekuritas user-friendly, mudah diakses kapanpun dan dari manapun melalui web (growin.id), Growin’ on Livin’, atau unduh aplikasinya di AppStore atau PlayStore.
