Mungkin belum banyak yang menyadari bahwa beberapa proyek infrastruktur di Indonesia dibangun dengan dana masyarakat lewat penerbitan surat utang negara berbasis syariah (sukuk negara).
Proyek-proyek itu terbentang di sepanjang khatulistiwa. Misalnya, underpass Simpang Mandai Makassar, Sulawesi Selatan, yang dibiayai sukuk negara 2015-2017 dan ramp on/off flyover Amplas Medan yang dibiayai sukuk negara 2016. Selain itu, jembatan Pulau Balang Samarinda, Kalimantan Timur; Jalan Gerung Mataram, NTB; jalur kereta ganda Cirebon-Kroya; dan jembatan petuk Kupang, NTT, juga dibangun dengan mengandalkan dana sukuk negara.
"Beberapa proyek [yang dibiayai dari sukuk antara lain] jalan dan jembatan di 30 propinsi. Pembangunan kereta di Jawa, Sumatera, dan Sulawesi. Revitalisasi asrama haji di 24 [kota] serta 54 perguruan tinggi dan 32 madrasah," ujar Menteri Keuangan Sri Mulyani.
Sukuk negara atau obligasi negara berbasis syariah ialah bukti penyertaan atas kepemilikan aset negara. Membeli sukuk berarti membeli aset negara. Aset negara tersebut kemudian disewakan lagi ke pemerintah hingga jatuh tempo atau masa berlakunya habis.
Istilah untuk akad sukuk ialah ijarah asset to be leased (ijarah al maujudat al-mau’ud bisti’jariha). Ini adalah akad ijarah (sewa- menyewa) dengan objek ijarah yang sudah ditentukan spesifikasinya. Sebagian objek ijarah sudah ada saat akad terjadi, tapi penyerahan obyek ijarah dilakukan pada masa yang akan datang sesuai kesepakatan.
Dengan membeli sukuk negara, masyarakat dapat berinvestasi sekaligus berkontribusi membangun negeri. Salah satu sukuk negara adalah sukuk ritel yang dapat dibeli investor perorangan dengan nilai minimal satu juta rupiah.
Sukuk negara yang tengah ditawarkan pemerintah pada 24 Februari-12 Maret 2020 ialah Sukuk Ritel Seri SR012. Seri ini adalah kelanjutan seri sebelumnya, yaitu SR011 yang terbit pada 1-21 Maret 2019.
Apa menariknya sukuk ritel alias sukri? Terdapat beberapa kelebihan sukri. Pertama, produk ini aman dan halal. Investasi Anda dijamin 100% oleh pemerintah sehingga sangat aman. Sukri juga dinyatakan telah sesuai hukum syariah oleh Dewan Syariah Nasional–Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI).
Kedua, menguntungkan. Dengan membeli sukri, Anda dapat meraup keuntungan atau imbal hasil berupa uang sewa (ujrah). Besaran imbal hasil yang ditetapkan Kementerian Keuangan adalah 6,3%. Perhitungan imbal hasil ini berupa persentase modal dalam waktu setahun, tetapi pembayarannya dilakukan tiap bulan.
Ketiga, terjangkau. Anda dapat berinvestasi dan turut berpartisipasi membangun negeri mulai dari Rp1 juta sampai dengan Rp3 miliar. Nilai investasi ini dapat disesuaikan dengan strategi perencanaan keuangan Anda.
Keempat, dapat diperdagangkan kembali di pasar sekunder. Sukri SR012 bertenor tiga tahun dan akan jatuh tempo pada 10 Maret 2023. Tiga tahun adalah jangka waktu investasi yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan perencanaan keuangan Anda. Anda dapat menahannya sampai jatuh tempo atau menjualnya—sukri bersifat tradable—sebelum jatuh tempo untuk mendapatkan capital gain. Selain itu, pajak sukri juga lebih rendah, yakni 15%. Bandingkan dengan pajak deposito yang mencapai 20%.
Kelima, mudah dibeli melalui sbn.most.co.id. PT Mandiri Sekuritas sebagai perusahaan efek one stop financial services dipercaya salah satu mitra distribusi Sukri SR012. Untuk membeli Sukri SR012, Anda yang sudah menjadi nasabah Mandiri Sekuritas cukup melengkapi data diri di website https://sbn.most.co.id, isi kolom, dan masukkan PIN transaksi.
Bagi Anda yang belum memiliki rekening efek di Mandiri Sekuritas, dapat langsung melakukan registrasi pendaftaran, transfer dana pembelian, isi formulir dan bukti setor, kemudian tunggu penjatahan dari pemerintah serta bukti kepemilikan dari agen penjual (settlement).
Di tengah tren suku bunga rendah dan dinamika di pasar modal, sukri berpotensi menjadi primadona. Apalagi pemerintah membatasi penerbitan SBN ritel hanya enam kali tahun ini, bandingkan dengan tahun lalu yang mencapai 10 kali. Jadi, siap-siap bergerak cepat (gercep) untuk mendapatkannya. Anda dapat mengakses informasi mengenai produk-produk SBN dan jadwal penerbitannya melalui sbn.most.co.id.
Bagaimana Cara Menghitung Keuntungan Investasi SR012?
Situs DJPPR Kemenkeu memberikan contoh perhitungan dan keuntungan seri sukri sebelumnya, tetapi belum memperhitungkan pembayaran pajak atas imbalan serta biaya lainnya. Misalnya, investor A membeli sukri di pasar perdana sebesar 70 juta rupiah, dengan imbalan 6,3% per tahun (jika dikurangi pajak menjadi 5,355%). Jika sukri tersebut tidak dijual sampai jatuh tempo, maka hasil yang diperoleh adalah:
- Imbalan = (Rp70.000.000 x 6,3% x 3 tahun)= Rp 13.230.000 (diterima setiap bulan sampai jatuh tempo).
- Nilai nominal pada saat jatuh tempo. Investor A menerima kembali nilai nominal sukri sebesar 70 juta rupiah.
Ilustrasi kedua, investor B membeli sukri di pasar perdana sebesar 70 juta rupiah, dengan tingkat imbalan 6,3% per tahun. Jika sukri tersebut dijual di pasar sekunder dengan harga 102%, maka hasil yang diperoleh adalah:
- Imbalan = (Rp70.000.000 x 6,3% x 1/12)= Rp 367.500 (diterima setiap bulan sampai dengan saat dijual).
- Capital gain = Rp70.000.000 x (102-100)% = Rp 1.400.000. Total hasil yang diterima adalah Rp 71.400.000 (nilai nominal sukri + capital gain).
Menguntungkan, bukan? Bila tertarik dengan investasi halal dan syar’i, sekaligus membantu membangun negeri, kesempatannya kini terbuka untuk Anda. Cukup dengan satu juta rupiah Anda sudah turut berpartisipasi membangun Indonesia, dengan cara yang syar’i, halal, dan insya Allah berkah.
Jadi, tunggu apalagi?