Mandiri Sekuritas Mandiri Sekuritas

Mandiri Sekuritas

  • Tentang Kami
    • Profil Perusahaan
    • Tanggung Jawab Sosial Perusahaan
    • Tata Kelola Perusahaan
    • Laporan Tahunan
  • Produk & Layanan
    • Corporate Solutions
    • Investor Institusi
    • Investor Retail
    • Riset
  • Growin' Priority
  • Siaran Pers & Artikel
    • Siaran Pers
    • Artikel
  • Hubungi Kami
  • growin logo
  • Portal Riset
  • Karir
  • | Siaran Pers & Artikel
  • | artikel
  • | Strategi Dollar Cost Averaging (DCA) vs Lump Sum di Pasar Modal Indonesia

Strategi Dollar Cost Averaging (DCA) vs Lump Sum di Pasar Modal Indonesia

Ditulis oleh Corporate Secretary & Communications
Agt 25, 2026 • 5 min

Ketika sudah memiliki dana untuk berinvestasi, Anda mungkin bingung apakah sebaiknya menginvestasikan seluruh dana sekaligus atau secara bertahap. Dua strategi yang umum digunakan adalah Dollar Cost Averaging (DCA) dan lump sum. Keduanya memiliki cara kerja dan risiko yang berbeda dalam menghadapi pergerakan harga pasar. Lantas, apa kelebihan dan kekurangan masing-masing strategi? Simak penjelasan berikut untuk menentukan pilihan yang sesuai dengan kondisi Anda. 

Apa Itu Strategi DCA?

Dollar Cost Averaging (DCA) adalah cara berinvestasi dengan jumlah uang yang sama secara rutin, misalnya setiap bulan. Saat harga saham turun, uang yang sama bisa membeli lebih banyak saham. Sebaliknya, saat harga naik, jumlah saham yang dibeli lebih sedikit. Cara ini cocok bagi Anda yang ingin berinvestasi rutin dari penghasilan bulanan. 

Bagaimana dengan Lump Sum?

Berbeda dengan DCA, lump sum adalah cara berinvestasi dengan menempatkan seluruh dana sekaligus. Semua dana langsung masuk ke pasar sejak awal. Jika harga naik, seluruh dana bisa ikut mendapat keuntungan. Namun, jika harga turun, nilai investasi juga bisa turun lebih besar.

DCA vs Lump Sum: Apa Perbedaannya?

Kedua strategi investasi ini memiliki karakter yang berbeda. Berikut gambaran sederhananya:

Aspek

Dollar Cost Averaging

Lump Sum

Pembelian

Bertahap

Sekaligus

Penggunaan Dana

Dibagi secara berkala

Seluruh dana di awal

Dampak fluktuasi

Lebih tersebar

Langsung terasa

Potensi hasil

Bergantung harga tiap pembelian

Bergantung pergerakan pasar setelah pembelian

Disiplin

Perlu investasi rutin

Tidak perlu pembelian berkala

Risiko waktu masuk

Lebih tersebar

Lebih bergantung pada waktu pembelian

*Tidak ada strategi yang selalu lebih baik. Pilihannya bergantung pada kondisi pasar, tujuan investasi, dan profil risiko Anda.

 

Supaya Anda mendapatkan gambaran, simak contoh simulasinya berikut ini:

Misalnya, Anda memiliki dana Rp12 juta. Dengan DCA, dana tersebut dapat diinvestasikan Rp1 juta setiap bulan selama 12 bulan, sedangkan lump sum menempatkan seluruh Rp12 juta sejak awal.

Jika harga terus naik, lump sum berpotensi memberi hasil lebih besar karena dana sudah masuk sejak awal. Sebaliknya, saat harga turun, DCA memungkinkan Anda membeli lebih banyak saham dengan harga yang lebih rendah.

Kapan Memilih DCA atau Lump Sum?

Pilihan antara DCA dan lump sum dapat disesuaikan dengan kondisi keuangan dan kenyamanan Anda. DCA bisa dipilih jika Anda:

  • Memiliki penghasilan rutin.
  • Ingin berinvestasi secara bertahap.
  • Lebih nyaman menghadapi fluktuasi harga.
  • Memiliki tujuan investasi jangka panjang.

Sementara itu, lump sum bisa dipilih jika Anda sudah memiliki dana investasi dan siap menempatkannya sekaligus. Apa pun pilihannya, tetap sesuaikan dengan tujuan dan profil risiko Anda.

Sesuaikan Strategi dengan Kondisi Anda

Anda tidak harus memilih DCA atau lump sum sepenuhnya. Sebagian dana bisa diinvestasikan di awal, lalu sisanya secara berkala. Sesuaikan strategi dengan tujuan, kondisi keuangan, dan profil risiko, bukan sekadar mengikuti pergerakan pasar. Digital platform seperti:  Growin' dari Mandiri Sekuritas membantu Anda berinvestasi saham dan produk pasar modal lainnya, serta memantau kinerja portofolio dengan mudah setiap saat.

DCA membantu Anda berinvestasi secara bertahap, sedangkan lump sum membuat seluruh dana masuk ke pasar sekaligus. Keduanya memiliki kelebihan dan risiko, sehingga tidak ada strategi yang selalu unggul. Pilih cara sesuai tujuan, kondisi keuangan, dan profil risiko, lalu jalankan konsisten. Jangan lupa pantau melalui Growin' by  Mandiri Sekuritas untuk membantu Anda mengelola investasi dengan lebih mudah, nyaman, dan aman. 

FAQ

Apakah DCA cocok ketika pasar saham sedang naik?
Bisa, terutama jika Anda ingin berinvestasi secara rutin dan konsisten.

Apakah lump sum lebih menguntungkan jika pasar terus naik?
Berpotensi, karena seluruh dana sudah masuk sejak awal. Namun, hasil tetap bergantung pada pergerakan pasar.

Bagaimana menentukan periode DCA yang ideal?
Sesuaikan dengan arus kas, tujuan investasi, dan kemampuan Anda untuk berinvestasi secara rutin.

Bisakah DCA dan lump sum digunakan dalam satu portofolio?
Bisa. Keduanya dapat dikombinasikan sesuai strategi dan kondisi keuangan Anda.

Apa yang harus dilakukan jika pasar turun setelah melakukan lump sum?
Tetap tenang dan tinjau kembali tujuan, jangka waktu, serta profil risiko sebelum mengambil keputusan.


Baca juga artikel-artikel serupa

Agt 25, 2026
5 min
Strategi Dollar Cost Averaging (DCA) vs Lump Sum di Pasar Modal Indonesia
Agt 18, 2026
5 min
Penjelasan Sederhana Rasio Keuangan Saham: PER, PBV, ROE, dan DER Beserta Contohnya
Agt 14, 2026
5 min
Kalkulator & Cara Hitung Modal Awal Investasi Saham untuk Pemula
Bantuan
  • FAQ
  • Kebijakan Privasi
MEDIA SOSIAL
KANTOR PUSAT
  • Menara Mandiri 1 Lt. 24 - 25 Jl. Jend. Sudirman Kav. 54 - 55 Jakarta 12190
  • 08.30 - 17.30 WIB Senin - Jumat
PT Mandiri Sekuritas memiliki izin pialang saham dan memiliki izin penjamin emisi. PT Mandiri Sekuritas berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan © 2023 Mandiri Sekuritas. All Rights Reserved